MALANG POSCO MEDIA, MALANG– Desa Tumpang akan menggelar pertunjukan budaya Wayang Kulit. Rencananya akan digelar Jumat (10/7) mendatang, di Gedung Rakyat Tumpang. Pagelaran wayang kulit akan dibawakan oleh Dalang Ki Soleh Adi Pramono. “Pertunjukan wayang kulit ini untuk memperingati bulan Sura Be 1960,’’ kata Kepala Desa Tumpang Widiarto.
Dia mengatakan, dalam pertunjukkan wayang kulit nanti mengusung cerita “Kunjarakarna Ruwat”. Cerita ini dipilih terinspirasi dari Relief Kunjarakarna di Candi Jago, salah satu warisan budaya penting yang berada di Desa Tumpang.
‘’Relief tersebut mengisahkan perjalanan Kunjarakarna, sosok yaksa yang memiliki tekad kuat untuk memperbaiki diri, menempuh laku kebajikan, serta mencari jalan pembebasan dari penderitaan,’’ tambah Widiarto.
Dalam press rilisnya, Widiarto menyebutkan, Kunjarakarna Ruwat mengandung banyak pesan. Terutama terkait dengan pertobatan, penyucian diri, welas asih, dan kemenangan nilai-nilai kebajikan, sehingga sangat relevan dimaknai dalam momentum Bulan Sura yang identik dengan refleksi, introspeksi, dan ruwatan kehidupan.
Lebih lanjut Widiarto mengatakan, mengangkat cerita itu bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan kembali narasi yang terpahat pada Relief Candi Jago agar dapat dipahami masyarakat melalui media budaya yang masih hidup, yakni wayang kulit.
“Dengan demikian, warisan budaya tidak hanya menjadi benda bersejarah, tetapi juga terus memberi makna bagi kehidupan masa kini,’’ ujarnya.
Selain itu, Widiarto mengatakan pertunjukkan Wayang Kulit yang akan dilaksanakan nanti menjadi bagian dari penguatan identitas Desa Tumpang sebagai Desa Pemajuan Kebudayaan (Desa Budaya). Tahun 2026 merupakan tahun ketiga Desa Tumpang menjalankan Program Nasional Desa Pemajuan Kebudayaan, dengan komitmen menjadikan potensi budaya lokal sebagai kekuatan pembangunan masyarakat, pelestarian warisan budaya, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis kebudayaan.
Melalui peringatan Bulan Sura ini, Desa Tumpang ingin menunjukkan bahwa kebudayaan bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dirawat, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung. (ira/udi)

