MALANG POSCO MEDIA, KOTA BATU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu terus mematangkan langkah mitigasi non-struktural menjelang datangnya musim penghujan. Melalui program unggulan bertajuk “Miss U” (Mitigasi Susur Sungai) Kota Batu, tim gabungan menyisir berbagai aliran sungai kritis guna mengurangi risiko bencana banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho menjelaskan bahwa kegiatan tahunan yang rutin digelar sejak tahun 2023 ini krusial dilakukan untuk meminimalkan dampak material maupun korban jiwa, berkaca pada sejarah banjir bandang yang pernah melanda Kota Batu pada tahun 2021 lalu.
“Kondisi geografis Kota Batu memang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi saat musim hujan. Oleh karena itu, program Miss U tahun 2026 ini sengaja kami laksanakan jauh hari sebelum musim hujan tiba, yakni sepanjang periode 2 Juni hingga 31 Juli,” ujar Gatot kepada Malang Posco Media, Rabu (8/7) kemarin.
Berdasarkan hasil pemetaan lapangan yang dilakukan secara kolaboratif bersama TNI, Polri, DLH, PUPR, Perhutani, Tahura R. Soeryo, relawan desa, dan instansi terkait lainnya, petugas berhasil mengidentifikasi ratusan titik material berbahaya yang berpotensi menyumbat aliran sungai.
Dari hasil susur sungai di beberapa lokasi utama, ditemukan berbagai hambatan signifikan. Contohnya Sumber Darmi (2-3 Juni) ditemukan total 16 titik kayu tumbang dan 1 titik longsoran tanah. BPBD langsung bergerak melakukan eksekusi pembersihan dengan memotong batang pohon serta merapikan ranting.
Kemudian Sungai Krecek (8-9 Juni) penyisiran sepanjang 7,5 hingga 8 km mendeteksi adanya puluhan hambatan. Meliputi 21 titik kayu, 27 rumpun bambu, 5 titik longsor, serta belasan titik gangguan aliran. Sungai Glagah Wangi (10-11 Juni) ditemukan 26 titik hambatan, termasuk sumbatan berupa sampah pertanian.
Di aliran Sungai Brantas Bon 8, Coban Peteng, dan Pusung Lading (12-25 Juni) petugas mendeteksi tumpukan material kayu, puluhan rumpun bambu yang menutup sungai, penumpukan sampah, hingga titik longsor yang mengancam kelancaran arus air.
“Fokus utama kami adalah mengidentifikasi dan langsung mengeksekusi penanganan di titik-titik longsoran, pohon roboh, dahan, hingga rumpun bambu yang menyumbat aliran. Jika dibiarkan, material-material ini bisa membentuk bendung alam yang sewaktu-waktu dapat jebol dan memicu banjir bandang di hilir,” tegas Gatot.
Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana dan perbandingan indeks ancaman bahaya banjir dari tahun 2022 ke tahun 2024, beberapa wilayah di Kecamatan Bumiaji, Batu, dan Junrejo masih menunjukkan indikator warna merah untuk kelas bahaya/ ancaman tinggi. Menyikapi hasil temuan lapangan dan data analitis tersebut, Gatot Noegroho memaparkan beberapa rekomendasi strategis BPBD Kota Batu ke depan.
“Rekomendasi meliputi pembersihan aliran secara berkala dengan eksekusi pemotongan kayu dan pembersihan rumpun bambu yang menghambat sungai harus terus dipantau. Terutama di sungai yang bersifat periodik (intermittent) di mana debit airnya bisa membesar secara drastis saat musim hujan,” ungkapnya.
Selain itu dibutuhkan sinergi lintas sektor dan masyarakat sebagai penguatan kapasitas masyarakat sekitar pinggiran sungai dan pengaktifan peran FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) Desa untuk ikut menjaga kelestarian ekosistem sungai.
Serta penguatan sistem informasi darurat melalui himbauan BPBD kepada masyarakat untuk memanfaatkan kanal pengaduan cepat jika melihat adanya potensi sumbatan baru di sungai melalui Call Center/ WhatsApp BPBD di nomor 0812 1710 4099 atau layanan darurat Pemkot di 112.
“Mitigasi non-struktural seperti susur sungai ini tidak akan maksimal tanpa adanya kesadaran bersama. Kami berharap masyarakat tidak membuang sampah atau limbah pertanian ke aliran sungai agar fungsi hidrologi sungai di Kota Batu tetap terjaga dengan aman,” pungkasnya.(eri/lim)

