Olahraga yang mengkombinasi daya tahan tubuh (endurance) dan kekuatan (strength) mulai banyak diminati, dengan hadirnya kompetisi kebugaran bertajuk Hyrox. Saat ini menjadi tren olahraga baru.
MALANG POSCO MEDIA – Kompetisi kebugaran bertajuk Hyrox di Malang belum terlalu banyak pegiatnya, namun diprediksi tren olahraga ini bakal segera menjamur di berbagai tempat gym atau pusat kebugaran. Hal itu disampaikan oleh Monita Gunawan, salah satu pegiat Hyrox sekaligus member di Bengkel Riverside, salah satu pusat kebugaran yang memfasilitasi Hyrox.
Monita mengaku, paduan olahraga lari dan workout ini sangat disukainya karena cukup menantang. Meski usianya sudah 52 tahun, namun Hyrox selalu memberikan kesan yang berbeda dibandingkan olahraga lain.
“Karena aku memang suka menchallenge diriku. Ini menggabungkan endurance sama strength. Lebih challenging karena setelah lari, ada aktifitas yang dilakukan, yang membutuhkan strength,” jelas Monita.
Hyrox sendiri memadukan lari dengan delapan stasiun tantangan fisik yang berbeda secara bergantian. Setiap orang diwajibkan berlari sejauh satu kilometer sebelum menghadapi tantangan di setiap stasiun.
Yakni meliputi SkiErg (simulasi ski menggunakan mesin), Sled Push (mendorong beban), Sled Pull (menarik beban dengan tali), Burpee Broad Jump (burpee dengan lompat jauh), Rowing (mendayung), Farmer’s Carry (berjalan membawa beban di kedua tangan), Sandbag Lunges (berjalan lunge dengan membawa beban), hingga Wall Balls (melempar bola beban ke dinding).
Dengan paduan seperti itu, Hyrox ini dirasa Monita menantang batas kemampuan fisik seseorang karena terdapat kombinasi beban dan kardio.
“Ini lebih menantang daripada lari biasa. Setelah lari 1 kilometer, kita langsung dipaksa melakukan aktivitas yang membutuhkan strength, lalu kembali lagi ke lari,” tambahnya.
Monita sendiri juga telah merasakan langsung atmosfer kompetisi Hyrox yang sesungguhnya ketika ikut event di Jakarta beberapa waktu kemarin. Menurut Monita, atmosfer dan antusiasme peserta maupun penonton Hyrox di Indonesia dinilai sebagai salah satu yang terbaik jika dibandingkan dengan negara lain.
“Vibe-nya seru banget. Awalnya banyak orang yang skeptis, tapi ternyata acaranya bagus sekali. Teman-teman yang sudah pernah ikut di tempat lain bahkan bilang kalau hype di Indonesia adalah yang terbaik karena penontonnya sangat suportif dan terus memberikan dukungan,” kesan Monita.
Melihat kesuksesan di Jakarta, Monita pun cukup yakin tren ini akan segera meledak di Kota Malang. Kendati demikian, karena nama Hyrox memiliki hak paten, sejumlah pusat kebugaran lokal yang belum berafiliasi resmi menyiasatinya dengan membuka kelas sejenis menggunakan istilah hybrid class atau hybrid race.
Para pegiat Hyrox di Malang, disebutkan Monita sangat beragam. Bukan hanya atlet dari berbagai macam olahraga seperti maraton, pilates, yoga, tapi juga cukup banyak masyarakat umum.
Olahraga ini pun sangat terbuka dan cukup disarankan. Tapi Monita juga memberikan masukan bagi masyarakat yang masih awam namun tertarik untuk mencoba olahraga intensitas tinggi ini, supaya tetap mempersiapkan dengan baik sebelum melakoninya. Persiapan latihan yang matang dan konsisten adalah kunci utama.
“Meskipun Hyrox digaungkan sebagai olahraga untuk semua orang, semua orang itu tetap harus latihan untuk menghindari cedera. Selain melatih fisik dan jantung, kecukupan nutrisi serta hidrasi elektrolit satu minggu sebelum pertandingan juga sangat krusial agar tidak mengalami kram,” pungkas Monita. (ian/bua)

