Usung Inovasi Digital, Runtuhkan Stigma Kuno

Perjuangan Abel Bawa Batik Malangan Lebih Dekat dengan Gen-Z

Di balik gemerlap panggung Grand Final Putera Puteri Batik Kota Malang yang dihelat di Pendopo Kabupaten Malang akhir Juni kemarin, tersimpan sebuah cerita perjuangan panjang seorang gadis asal Pakisjajar, Malang. Chilya Salsabila El Chusni, atau yang akrab disapa Abel, berhasil menyandang Runner-Up bersama pasangannya, Dhany Syah Putra. Namun, bagi Abel, gelar itu hanyalah bonus dari perjalanan edukasi mengesankan yang telah ia mulai sejak jauh hari.

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Bagi Abel, kemenangan sebagai runner up Putera Puteri Batik Kota Malang bukan sekadar pencapaian di atas panggung. Lebih dari itu, menjadi awal untuk memperkenalkan batik Malangan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda sebayanya.

Pasalnya, di tengah derasnya arus informasi teknologi digital, batik sering kali dianggap sekadar busana resmi yang dikenakan hanya ketika menghadiri rapat atau acara seremonial. Stigma itulah yang ingin diubah Abel dan akhirnya memutuskan mengarungi kompetisi tahunan tersebut.

Abel pun akhirnya harus berjibaku melewati seleksi yang ketat dan panjang. Dari 60-an peserta yang mendaftar, ia harus membuktikan diri melalui serangkaian tes, di antaranya seperti deep interview mengenai wawasan batik dan kepribadian, hingga public speaking.

“Jujur, tingkat kompetisinya sangat ketat. Lawan saya rata-rata sudah mahasiswa atau berpengalaman, sementara saya kan baru lulus SMK. Belum lagi tekanan di masa karantina selama dua hari. Ini yang menurut saya cukup berat,” kenang Abel, sambil tersenyum kecil ketika menceritakan pengalamannya kepada Malang Posco Media.

Pengalaman yang paling membekas bagi Abel justru ketika ia bersama peserta lain diminta turun langsung mengunjungi rumah-rumah perajin batik. Setiap pasangan finalis mendapat tugas mendalami satu perajin, mempelajari batik, menggali filosofi motif, keunikan karya, hingga membuat video dokumentasi yang diputar saat malam grand final.

“Dari situ saya baru sadar ternyata pengrajin batik di Kota Malang itu banyak sekali. Mereka sebenarnya sudah dikenal di komunitasnya, tetapi sayangnya belum begitu dikenal oleh generasi kami di Gen-Z,” ujarnya.

Menyadari potensi perajin batik yang begitu menarik dan ‘besarnya’ kalangan Gen-Z, ia pun mengusung inovasi katalog digital berbasis website yang diciptakan oleh rekannya. Website itu ia namakan  Janoko Batik Malangan (Jajaran Inovasi Katalog Digital Batik Malangan), sebuah website yang ia gagas untuk menjembatani jurang pemisah antara pengrajin batik lokal dengan generasi Z.

Menurut Gadis kelahiran Malang, 12 Februari 2008 ini, minat generasi muda terhadap batik sebenarnya tinggi. Namun, seringkali mereka terbentur akses yang sulit dan terkadang tidak menarik. Di website itulah, semua fitur lebih dipermudah dan dikembangkan sebaik mungkin agar anak anak muda lebih tertarik.

Menurut Abel, pendekatan digital menjadi cara paling efektif menjangkau generasi Z yang terbiasa mencari informasi secara cepat dan praktis.

“Kalau harus mencari satu per satu akun media sosial perajin, mungkin mereka malas. Lewat satu website, mereka bisa langsung tahu siapa perajinnya, motif khasnya apa, sampai lokasi untuk belajar membatik,” katanya.

“Banyak teman saya bertanya, belajar batik di mana? Harus cari ke mana? Selama ini informasi pengrajin di Kota Malang belum tereksplor dengan baik di kalangan anak muda,” sambung Lulusan SMK Telkom Malang ini.

Tidak hanya itu, dengan cara ini juga sekaligus mengubah cara pandang generasi sebayanya yang masih menganggap batik sebagai busana ‘kaku’ atau sekadar seragam rapat yang terkesan formal.

“Saya ingin meruntuhkan stigma bahwa batik itu kuno. Batik itu justru fleksibel. Bisa dipadupadankan untuk nongkrong, jadi celana kasual, atau aksesoris. Itu yang ingin saya edukasikan selama satu tahun ke depan,” tegas dia.

Gagasan website Janoko ini pula yang menjadi salah satu materi penilaian dalam kompetisi Putera Puteri Batik Kota Malang dan membawa Abel bersama rekannya meraih posisi kedua di ajang bergengsi tersebut.

Di usia yang masih 18 tahun, langkah Abel memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu dimulai dari hal besar. Terkadang, cukup dengan menghadirkan akses informasi yang lebih mudah dan warisan budaya bisa menemukan jalannya menuju hati generasi berikutnya.

Bagi Abel, memperkenalkan batik bukan hanya menjaga sehelai kain tetap lestari, melainkan memastikan cerita para perajin Malang terus hidup sekaligus dikenal oleh anak-anak muda di kotanya sendiri.

“Jadi gimana caranya saya bisa bikin pendekatan yang lebih fleksibel kepada mereka, bikin pendekatan dan juga edukasi yang lebih bisa mereka terima. Terus harapan saya ke depannya juga Gen Z ini supaya enggak malu buat pakai batik,” tutup mahasiswi FEB UM ini. (ian/bua)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *